Kamis, 23 Mei 2019

TERNYATA BID'AH TUH MAHAL DAN MEREPOTKAN
↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔

🔏 Oleh : Uray Sriwahyuni


Bismillah...

Kalian sadar ga sih kalau perbuatan bid'ah tuh merepotkan. Bahkan dalam menyelenggarakan acara bid'ah tuh mahal lho.

Ga percaya ya ?

Contoh Pertama : 
Acara maulidan yang tiap tahunnya diadakan oleh sebagian orang dengan tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk mendanai acara ini. Dari bayar penceramah sekian ratus ribu atau sekian juta, 
bayar biaya konsumsi sekian ratus ribu atau sekian juta,
belum lagi bayar pengisi acara yang lain. 

Contoh Kedua :
Acara Tahlilan. Terkadang keluarga simayyit rela berhutang mengadakan acara tahlilan untuk mendo'kan si mayyit. Sudahlah tertimpa musibah, eh malah nambah beban lagi dengan berhutang untuk mengadakan acara tahlilan yang sebenarnya adalah acara bid'ah. Tidak ada tuntunan dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.

Contoh Ketiga :

Acara Tujuh Bulanan bagi wanita hamil. Padahal dalam islam tidak ada ajaran untuk mengadakan nujuh bulan ketika umur kehamilan sudah mencapai 7 bulan. Kenapa harus repot-repot mengadakan acara tujuh bulanan yang sebenarnya tidak disyari 'atkan. 

Contoh Keempat :
Shalawat Nariyah. Pada shalawat nariyah terdapat perintah : Barangsiapa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat . Bayangkan saja untuk membaca shalawat nariyah sebanyak 4444 kali itu butuh berapa jam baru selesai ? apakah yakin kita bisa shalat tepat waktu ketika membaca shalawat nariyah sebanyak 4444 kali ? 

Cukuplah kita membaca shalawat yang betul-betul diajarkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam agar kita mendapatkan syafa'at beliau shalallahu 'alaihi wa sallam.


Sebenarnya masih banyak lagi amalan bid'ah lainnya yang bisa mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, bahkan merepotkan karena tidak ada dalil shahih akan amalan atau acara tersebut. 

Acara atau amalan bid'ah itu merepotkan yang sia-sia alias dikerjakan tanpa ada tuntunan dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Apakah yakin akan dapat pahala karena mengerjakan amalan yang tidak sesuai syari'at yang dituntunkan ? Padahal syarat diterimanya ibadah ada 2 yaitu IKHLAS DAN ITTIBA' kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. 

Lain halnya dengan amalan yang disyari'atkan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam itu pastinya kita tidak akan merasa repot untuk melakukannya. Karena sudah jelas ada tuntunannya dan In syaa Allah akan mendapatkan ganjaran pahala jika ikhlas dan sesuai dengan yang dituntunkan. 

Nah agar kita tidak bingung maka kita tinggal mengikuti saja siapa yang jelas-jelas pasti paling diridhai Allah subhanahu wa ta'ala , yaitu Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, atau mengikuti para shahabat Radiyallahu 'anhum. 

Kita tidak perlu dipusingkan mazhabnya apa yang penting apakah sesuai atau tidak dengan yang dilakukan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Kalau semua mengaku mengikuti tuntunan Rasulullah maka kita lihat buktinya apakah benar-benar mengikuti Rasulullah ataukah tidak.

Dengan menyibukkan diri berbuat bid’ah maka kita tidak pernah mempelajari hadist nabi yang shahih sehingga akhirnya sunnah nabi menjadi asing dan dianggap aneh. Bahkan mirisnya bid’ah dianggap bagian dari agama. Tentunya hal ini akan menghilangkan sunnah dalam agama yang dibawa oleh Nabi dan terganti dengan bid’ah. 


“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” 
(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)


Kebenaran hanyalah bila sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah siapapun yang membawakannya. Selama tidak menyelisihi keduanya maka kita harus berkata, "SAMI' NA WA ATHO' NA"


Wallahu ta'ala a'lam bish shawab










Tidak ada komentar: