POSTINGAN SALAH TEMPAT
↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔
↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔
Oleh : Uray Sriwahyuni
Bismillah...
Pas buka beranda di akun saya lihat postingan yang lewat. Postingan tersebut masuk ke group KHUSUS SHARE POSTINGAN ILMU AGAMA ISLAM. Tapi isinya kok ga sesuai dengan Judul Groupnya. Malahan yang banyak kok postingan soal Politik Zaman Now.
Salah satunya adalah Postingan yang lagi viral yaitu #2019GantiPresiden. Saya Penasaran lalu saya baca dan tentunya isinya TIDAK mendukung untuk terpilihnya presiden yang saat ini bila maju di pilpres berikutnya. Dan ketika saya baca komen satu persatu dari mereka yang ada cuma mencela dan saling adu argumen. Tanpa mau kalah sedikitpun dalam membela calon presiden pilihan mereka.
Ya itu sih terserah mereka mau membela dan mendukung salah satu calon presiden 2019. Namun alangkah baiknya postingan itu jangan di group yang memang khusus share ilmu agama islam BUKAN share soal politik. Rasanya memang ga cocok postingan politik masuk ke group Belajar Agama Islam. Kecuali kalau isi postingannya mengarah ke bagaimana bermuamalah dengan penguasa menurut islam. Atau bagaimana menasehati penguasa menurut islam. Nah postingan seperti ini sih sangat baik.
Dan lagi mencela penguasa/pemimpin di media sosial bukan ajaran islam.
Mencela pemimpin merupakan ciri khas manhaj yang ditempuh oleh kaum khawarij.
Awalnya hanya sekedar mengkritik dan membeberkan aib penguasa di atas mimbar, koran dan medsos tetapi menjalar hingga akhirnya memberontak pemimpin.
Tetapi saya berharap tidak sampai terjadi pemberontakkan.
Jelas metode ini menyelisihi petunjuk Nabi dalam mengingkari penguasa dan merupakan sumber segala fitnah atau kerusakan sepanjang sejarah.
Sebagai bukti bahwa metode seperti itu adalah metode yang diterapkan kaum khawarij adalah riwayat imam Tirmidzi dan selainnya dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi, katanya:
“Saya pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal berkata: Lihatlah pemimipin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Abu Bakrah menegurnya seraya berkata: Diamlah, saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya“
(Lihat Shahih Sunan Tirmdzi: 1812 oleh Al-Albani).
(Lihat Shahih Sunan Tirmdzi: 1812 oleh Al-Albani).
Imam Dzahabi berkata: “Abu Bilal namanya adalah Mirdas bin Udiyyah, seorang khawarj tulen. Karena kejahilannya, maka dia menganggap pakaian tipis bagi kaum pria adalah pakaiannya orang fasiq”
(Siyar A’lam Nubala’ 14/508 oleh imam Dzahabi).
(Siyar A’lam Nubala’ 14/508 oleh imam Dzahabi).
Menyebut kejelekan pemimpin di forum umum seperti facebook atau G+ atau tweeter atau sejenisnya yang jauh dari pemimpin maka ini bukanlah nasehat karena yang dinasehati aja belum tentu membaca atau mengetahuinya bahkan ini bisa memprovokasi rakyat untuk benci pada pemimpin sehingga menimbulkan kerusakan dan pembrontakan.
Alangkah baiknya kita yang awwam politik ini ga ikut-ikutan untuk komen didalam postingan yang bukan keahlian kita. Apalagi ikut-ikutan share tulisan yang menjelekkan pemimpin. Malahan yang ada cuma memperkeruh suasana. Orang yang pro dengan tulisan tersebut bertambahlah kebenciannya pada pemimpin yang dijelekkan dalam tulisan tersebut. Padahal belum tentu kebenarannya tulisan yang kita share tersebut.
Sibukkanlah diri kita dengan ilmu syar'i. Perbaiki aqidah dan akhlak kita.
Jika rakyat beriman dan bertakwa, Allah subahanahu wa ta'ala akan berikan pemimpin yang beriman dan bertakwa pula DAN Allah subahanahu wa ta'ala akan merubah kondisi negeri ini. إنْ شَاءَ اللَّهُ .
Jadi bukan solusi GONTA-GANTI PEMIMPIN. Tapi kualitas rakyatnya yang perlu diganti. Kalaupun mau ganti pemimpin diiringi pula dengan mengganti kualitas rakyatnya dengan lebih baik lagi.
Apalagi indonesia menerapkan sistem demokrasi, pemimpin dipilih oleh rakyat, dari rakyat, dan suara terbesar tentu yang memenangkannya, jadi jika sudah terpilih, maka itu merupakan aspirasi dari rakyat.
Bukankah diatas presiden ada wakil-wakil rakyat, dan putusan itu dirumuskan oleh mereka.
Bukankah diatas presiden ada wakil-wakil rakyat, dan putusan itu dirumuskan oleh mereka.
Jika rakyatnya masih suka korupsi, ga jujur, suka berdusta, suka berbuat maksiat dan kejelekan-kejelekan lainnya. Maka ini akan tercermin kepada pemimpinnya.
Pemerintah dzalim, itu karena rakyatnya juga mendzalimi diri mereka sendiri, juga mendzalimi pemimpinnya
“Demikianlah kami jadikan sebagian orang dzhalim sebagai pemimpin bagi orang dzhalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.” (QS. Al An’am: 129).
Hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada.
Mengubah aqidah, ibadah, akhlak dan muamalahnya lebih baik lagi. Mendidik diri dan keluarga dengan ajaran Islam yang benar
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du : 11)
Semoga kita diberi pemimpin yang adil dan bijaksana untuk memimpin negeri ini. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar