Sabtu, 29 September 2018

RUWAIBIDHAH ZAMAN NOW

RUWAIBIDHAH ZAMAN NOW
↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔↔
🔏 Oleh : Uray Sriwahyuni
Didunia maya semua orang punya kesempatan sama untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Membuat status sesuai apa yang ada di benaknya. Punya hak untuk berkomentar.
Namun masalah timbul ketika dia berkomentar untuk suatu urusan yang bukan keahliannya untuk mengomentari urusan tersebut.
Ketika seseorang membuat status tentang penguasa negeri. Kemudian muncullah komentar menjelekkan penguasa, menghina penguasa, menghujat penguasa negeri. Berkomentar sesuai keinginanya tanpa dibarengi pengetahuan terlebih dahulu dari kalimat dalam komentarnya. Apakah komentarnya benar adanya seperti itu ataukah tidak,
Misalnya, ketika masalah politik dianalisa dan dikomentari oleh orang-orang yang bukan faham dibidangnya.
Misalnya saja fatwa agama dikeluarkan orang-orang yang tidak layak untuk berfatwa, dan seterusnya. Akibatnya timbul kegaduhan.
Kebodohan seharusnya membuat semangat untuk belajar dan menahan diri dari sok tahu mengomentari segala hal yang bukan kapasitasnya. Untuk berhenti menanggapi hal yang tidak dia dipahami dan kuasai dengan baik. Harus diingat pula, manusia senantiasa dalam keterbatasan. Tapi bukan berarti tidak mau mencari tahu. Pandai dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil bagi kita sekarang. Sehingga, yang dibutuhkan adalah rasa tahu diri akan kapasitas diri sendiri.
Dan yang menghawatirkan adalah para ruwaibidhah dunia maya sedang merajelela. Ruwaibidhah berbicara tentang agama tanpa ilmu.
Kita bisa lihat apa yang terjadi di negeri ini. Pelaku penyuka sesama jenis dibela oleh kaum yang tidak faham hakekat islam tapi membela membawa dalil dari Al-Qur'an yang mereka tafsirkan sendiri, dimana sama sekali penafsiran mereka tidak seperti penafsiran ahli ilmu dalam masalah ini. Maka yang timbul adalah kerusakan dan kegaduhan.
Contohnya web ini : http://islamlib.com/gagasan/dalil-lgbt-dalam-al-quran/ .
Dan kita bisa lihat juga bahwa ahlul bid’ah dijadikan sebagai rujukan ilmu. Akhirnya syubhat, bid'ah dan kesyirikan merajalela.
Mereka adalah termasuk Ruwaibidhah.
Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
Waspadailah bahwa kerusakan dan kesesatan semakin terbuka lebar untuk meracuni anak-anak bangsa seperti Liberalisme, radikalisme, terorisme. Bahkan menghujat penguasa dimuka umum sudah biasa kita saksikan. SUNGGUH sangat miris nasib negeri ketika Ruwaibidhah berbicara.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقبِضُ الْعِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Tetaplah semangat  dalam menuntut ilmu agama yang syar'i. Tetaplah semangat dalam mendidik diri kita dan generasi kita dengan ilmu sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shaleh. Berpegang teguhlah dengan keduanya.
Semoga kita bukan termasuk Ruwaibidhah Dunia Maya maupun Dunia Nyata.
Wallahu ta'ala a'lam

Tidak ada komentar: