Menyalahkan Penguasa
↔↔↔↔↔↔↔↔↔
Mungkin diantara kita (termasuk saya), banyak yg pernah atau sering menyalahkan penguasa atau pemerintah atas kemalangan atau penderitaan yg kita alami. Tak pernah atau jarang kita mencela perilaku menyimpang kita sendiri. (Iko ko ibarat buruak muko camin dibelah, mah)
Tapi coba saja perhatikan! Apakah pernah pemerintah melarang orang pergi ke masjid? Di sisi lain faktanya, boro2 ke masjid bahkan bisa bangun subuh trus shalat tepat waktu saja rasanya sudah ‘te o pe be ge te’. Dalam urusan tauhid, tanpa disadari kita sering jatuh tercacad-cacad: mulai urusan cokgalicok tathayur sampai urusan ritual kuburan. Apakah pemerintah menyuruh kita berklenik-ria? Tentu tidak … itu baru urusan tauhid dan shalat, yg notabene adalah perkara besar, maka tak mengherankan jika perkara2 yg terkesan remeh pun sering kita abaikan dan justru sering jadi bahan olokan.
Coba lihat lagi, apakah ada larangan berjenggot atau celana cingkrang dari pemerintah? Tapi, bukankah justru kadang sebagian kaum muslimin sendiri yg menjadikannya bahan olok-olok? Sama halnya, miras atau rokok, yg sangat jelas keburukannya (let alone keharamannya), apakah juga pemerintah yg membelikannya untuk kita? Nggak kan? … bahkan nggak ada tuh orang yg demo akibat kenaikan harga miras atau rokok. Lha, malah justru banyak kyai mbeling yg klepas klepus memberi contoh di depan ummat. Musik? Sami mawon, bukankah pemerintah tak pernah meminta rakyatnya menikmati perkara haram itu? Lha, justru malah banyak ustadz yg memakainya sebagai sarana entah untuk dakwah atau dagangannya. Urusan hutang dan riba? Rasanya bukan pemerintah deh yg menyuruh kita antri kredit untuk membeli ini dan itu. Justru sepertinya pemerintah terpaksa mengambil hutang untuk mengimbangi gaya hidup ribawi rakyatnya
Bukankah pemerintah tak perlu cari utangan untuk memperlebar jalan2 atau membuat jembatan layang, jika rakyatnya tak rajin mengkredit mobil atau motor? Tak jarang juga pemerintah terpaksa hutang untuk menutupi kelakuan rakyatnya yg sering ngaku miskin saat beli bbm premium, ndaftar sekolah, nyolong listrik, atau bahkan di kala butuh perawatan di rumah sakit.
Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin pertolongan Alloh datang kepada kita sedang kita dlm keadaan bermaksiat kepadaNya? Berharap pada pemimpin yg adil, baik, bla bla bla … mana mungkin? Pertama, karena pemimpin adalah karunia yg Allah berikan pada setiap kaum, yg secara logis tak mungkin Allah hadirkan yg terbaik supremo numero uno, jika kita pethakilan ngeyeli perintah2-Nya. Kedua, bukankah Allah pula yg menjanjikan berkah dari langit dan bumi jika penduduk negeri itu beriman dan bertakwa (demikian pula sebaliknya siksa bagi mereka yg mendustakan ayat2 atau perintahNya)? Lalu bagaimana dgn penguasa? Enak bener yak, kagak ada salahnya …. well, bukankah kita pula yg zalim mengangkat mereka lewat cara zalim dgn merk demokrasi? Itu pulalah sebabnya mengapa Allah jadikan sebagian orang2 yang zalim menjadi teman (pemimpin) bagi sebagian yg lain.
Saya kira tak perlu ilmu terlalu tinggi untuk mencerna tulisan di atas. Jika saja kita mau berpikir logis dan fair, maka pastilah tak mungkin kita menyalahkan atau mencela pemimpin. Tanggung jawab pemimpin adalah pada Allah ‘azza wa jalla yg telah memberinya mandat kekuasaan, sementara tanggung jawab rakyat adalah mematuhi dan menjaga kehormatannya. Simple!!!
—–
Sama sekali bukan sledingan, tapi ajakan hijrah memperbaiki diri … satitik dilauikan, sakapa dibukikkakan. Wallahu’alam.
copas
copas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar